Rabu, 27 Februari 2013

Menangis di Hari Raya


Sahl bin Abdullah Al-Tustari adalah seorang tokoh sufi dari Mesir. Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Sahl bin Abdullah Al-Tustari. Dia pernah berguru kepada Sufyan Al-Tsauri dan Dzun Nun Al-Mishri. Di samping itu, sejak usia belia, ia kerap mendapatkan amalan-amalan dari pamannya yang bernama Muhammad bin Sawwar. Setiap amalan yang ia dapatkan dari pamannya, selalu ia amalkan secara istiqomah. Sedang amalan-amalan itu sendiri selalu ditambah oleh pamannya. Menurut pengakuan Sahl, setiap ia mengamalkan sesuatu yang dianjurkan pamannya, ia selalu merasakan kemanisan dan kesejukan di dalam hatinya.

Sejak umur tujuh tahun, Sahl sudah mengamalkan puasa setiap harinya. Ia hanya berbuka dengan roti yang terbuat dari gandum. Puasannya ia laksanakan terus-menerus hingga wafat. Sepanjang malamnya, ia pergunakan hanya untuk berdzikir dan shalat. Keadaannya yang demikian itu dalam usia yang masih belia, justru membuat pamannya merasa khawatir dengan kesehatan Sahl.
“Tidurlah,hai Sahl.Sungguh, engkau telah membuat hatiku jadi cemas,” ujar pamannya. Namun Sahl menjawab dengan kalem, “Sebaliknya, aku sama sekali tak merasa cemas, Paman. Sebab, dengan begini, aku justru bisa menjaga Paman, baik secara terang-terangan maupun secara rahasia.”
Demikianlah perilaku Sahl dalam kehidupannya yang masih terbilang sangat belia. Pada usia dua belas tahun, ia di kirim keluarganya untuk berguru ke Basrah. Kemudian ia melanjutkan ke Abadan dan juga berguru di sana.  Setelah beberapa lama di Abadan, ia kembali ke Tustar.
Ketika Sahl sudah berkeluarga, ia memiliki suatu kebiasaan yang ia lakukan pada Hari Raya Idul Fitri. Kebiasaan ini terbilang agak aneh bagi masyarakat di sekitarnya. Apalagi bagi masyarakat zaman sekarang. Pada waktu Hari Raya Idul Fitri, usai menunaikan shalat ‘id, Sahl segera pulang ke rumahnya.
Setibanya di rumah, ia mengumpulkan segenap anggota keluarganya dan meminta mereka duduk mengitarinya. Setelah itu, Sahl mengambil sebuah kalung dari rantai besi cukup berat yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Rantai besi itu kemudian ia kalungkan di lehernya. Tak hanya sampai di situ saja, Sahl juga menaburkan tanah ke atas kepalanya dan badannya seraya menangis tersedu-sedu.
Setiap kali Sahl melakukan hal yang sedemikian itu,maka diantara keluarganya selalu ada yang menegur. Mereka berkata, “Hai Sahl, sekarang ini adalah hari raya, yaitu hari di mana kita sudah sepatutnya bergembira. Tetapi, mengapa engkau justru berbuat demikian?”
Di sela-sela isak tangisnya, Sahl menjawab: “Aku tahu betul akan hal itu. Namun, aku ini hanyalah seorang hamba yang diberi perintah oleh Allah agar beramal untuk-Nya. Aku telah melakukan banyak amalan. Tetapi, aku tak tahu apakah amalku itu Ia terima ataukah tidak?”
Kebiasaan Sahl yang lainnya adalah, jika datang ke masjid atau mushala,ia selalu mengambil tempat duduk di salah satu sudut tempat ibadah tersebut. Suatu ketika, seseorang menanyakan tentang kebiasaan Sahl tersebut: “Mengapa engkau selalu mengambil tempat duduk di sudut dan tak mau duduk di tengah-tengah saja?”
Sahl berkata: “Aku ini hanyalah seorang hamba yang ingin memohon rahmat dan kasih sayang-Nya. Di tempatku inilah tempat yang cocok untuk orang yang meminya-minta.”
Demikianlah kehidupan Sahl dengan berbagai kebiasaan yang tak bisa dimengerti oleh orang awam. Namun, perbuatan yang dilakukan oleh seorang sufiseperti Sahl, tak lain adalah karena ketinggian ilmu hikmah yang dimilikinya. Sebab, hanya orang-orang yang dikehendaki oleh Allah sajalah yang dapat memperoleh ilmu hikmah tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar