Ja'far bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim masuk Islam sejak awal dan sempat mengikuti hijrah ke Habasyah. Ia malah sempat mendakwahkan Islam di daerah itu.
Dalam Perang Muktah, ia diserahi tugas menjadi pemegang bendera Islam. Setelah tangan kanannya terpotong dia memegang bendera dengan tangan kiri. Namun tangan kirinya juga terpotong, sehingga dia memegang bendera itu dengan dadanya. Akhirnya, ia mati syahid dengan tubuh penuh luka dan sayatan pedang.
Selasa, 26 Februari 2013
TELINGA YANG MENDENGAR
Hasan Al-Bashri adalah salah seorang tokoh sufi yang lahir di Madinah dan besar di Bashrah. Ia bersahabat dengan banyak sahabat Rasulullah Saw. Di antaranya adalah Zaid bin Tsabit, juru tulis Rasulullah Saw. Sebagai seorang generasi tabi’in, Hasan Al-Bashri termasuk salah seorang yang dijuluki sebagai wali terbesar pada masanya.
Suatu ketika Hasan Al-Bashri mengisahkan sebuah pengalamannya yang cukup unik. Pada suatu hari, kisahnya, ia sedang berjalan-jalan. Pada saat itu, ia melintasi sebuah kuburan. Awalnya, perjalanan itu biasa-biasa saja. Namun, ketika tatapannya mengarah ke sebuah kuburan, ia tertarik dengan sesuatu pamandangan yang luar biasa alias tidak wajar.
Suatu ketika Hasan Al-Bashri mengisahkan sebuah pengalamannya yang cukup unik. Pada suatu hari, kisahnya, ia sedang berjalan-jalan. Pada saat itu, ia melintasi sebuah kuburan. Awalnya, perjalanan itu biasa-biasa saja. Namun, ketika tatapannya mengarah ke sebuah kuburan, ia tertarik dengan sesuatu pamandangan yang luar biasa alias tidak wajar.
TANGISAN SEBATANG POHON
Sebagai seorang kekasih Allah, segala sesuatu yang ada pada diri Rasullullah Saw memiliki Barakah yang banyak. Tak heran ketika Rasullullah Saw berwudhu, orang-orang di sekitarnya mengambil air dari bekas wudhu beliau untuk diusapkan ke pada tubuhnya sendiri. Ada pula yang sekedar mengusap air itu ke wajah dan kepalanya. Hal itu disebabkan air tetesan wdhu dari Rasullullah Saw tersebut memiliki berkah yang banyak. Sebab, air itu menetes dari kekasih Allah, tubuh yang penuh berkah.
BUDAK YANG BERUNTUNG
Manshur bin Amar, salah seorang tokoh sufi dari tanah Arab, suatu ketika menyampaikan nasihat dalam sebuah forum pengajian. Tiba-tiba datanglah seprang peminta-minta ke forum itu. Tujuannya adalah untuk meminta uang dari mereka sejumlah empat dirham. Maka, Manshur bin Amar pun berkata kepada para hadirin yang mengikuti acara prngajian tersebut: “Barang siapa yang bersedia memenuhi permintaan orang lain, maka aku akan mendoakan baginya empat permohonan.”
Senin, 25 Februari 2013
MENANGISNYA KEKASIH ALLAH
Nabi Zakaria a.s, sebagai utusan Allah,
kerap menyampaikan ajaran-ajaran Allah kepada umatnya. Pesan-pesan yang
disampaikannya senantiasa mengajak kaumnya untuk menyembah hanya kepada Allah
Azza wa Jalla.Namun, sebelum ia menyampaikan ayat-ayat Allah Swt. Yang telah
diwahyukan kepadanya, ia akan terlebih dahulu memerhatikan siapa saja yang
bakal menjadi audiennya.
Apabila
di antara mereka itu tidak terdapat Nabi Yahya a.s, ia akan membacakan ayat-ayat Allah yang berisi tentang ancaman
siksa api neraka. Namun sebaliknya,
apabila di antara audiennya itu tedapat putranya, yakni Nabi Yahya, tak
sedikitpun ia menyinggung ayat-ayat yang berisi ancaman siksa neraka.
Rabu, 13 Februari 2013
Sang Muadzin Bilal bin Rabah
Kalau kita
mendengar nama Bilal bin Rabah, kita pasti terbayang kisah keteguhan hati
seorang Muslim sejati. Betapa tidak. Saat umat Islam masih berjumlah sekian
orang serta kekejaman yang diterima kaum Muslim, seorang budak berkulit kelam
bertekad bulat dan mengikrarkan diri beriman kepada Allah SWT.
Nama lengkapnya Bilal bin
Rabah Al-Habasyi. Ia berasal dari negeri Habasyah, sekarang Ethiopia. Ia biasa
dipanggil Abu Abdillah dan digelari Muadzdzin Ar-Rasul. Bilal lahir di daerah
as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ia berpostur tinggi, kurus, warna
kulitnya cokelat, pelipisnya tipis, dan rambutnya lebat.
Ibunya adalah hamba
sahaya (budak) milik Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumuh. Bilal menjadi budak
mereka hingga akhirnya ia mendengar tentang Islam. Lalu, ia menemui Rasulullah
SAW dan mengikrarkan diri masuk Islam. Ia merupakan kalangan sahabat Rasulullah
yang berasal dari non-Arab.
Dalam Tokoh-Tokoh Besar
Islam Sepanjang Sejarah karya Syekh Muhammad Sa’id Mursi, dipaparkan bahwa
Umayyah bin Khalaf pernah menyiksa dan membiarkannya di jemur di tengah gurun
pasir selama beberapa hari. Di perutnya, diikat sebuah batu besar dan lehernya
diikat dengan tali. Lalu, orang-orang kafir menyuruh anak-anak mereka untuk
menyeretnya di antara perbukitan Makkah.
REZEKI SEEKOR IKAN
“Hai
Sulaiman, sesungguhnya aku belum merasa kenyang, meski telah menyantap seluruh
hidangan yang engkau sajikan
Pada suatu
ketika, Nabi Sulaiman menyampaikan sebuah munajat kepada Allah Azza wa Jalla.
Sebagai Nabi yang telah diberi keleluasaan untuk menguasai bangsa jin,hewan dan
angin, serta dianugrahi harta kekayaan yang berlimpah, telah membuat Nabi
Sulaiman merasa bahwa ia sanggup memberi makanan kepada setiap makhluk yang
menjadi penduduk di kerajaan. Oleh karena itu, ia bermunajat kepada Allah agar
diberi izin untuk memberi makan pada setiap makhluk yang ada di kerajaanya
selama satu tahun penuh.
Allah Taala
kemudian menjawab munajat Nabi Sulaiman tersebut dengan firman: “Engkau
sekali-kali tak akan dapat melakukan hal itu.” Akan tetapi Nabi Sulaiman tetap
bersikeras. Ia memohon kepada Allah agar diberi izin untuk membagikan makanan
kepada seluruh makhluk hanya dalam tempo sehari saja. Maka Allah mengizinkan
kepada Nabi Sulaiman melakukan hal itu untuk membuktikan kekuasaan-Nya.
Langganan:
Postingan (Atom)